Senin, 03 Mei 2010

MERANTAU

MERANTAU AND ONG BAK


Siap-siap untuk menyaksikan film laga paling heboh di tahun 2009 ini. Kenapa heboh, karena bisa dibilang ini adalah satu-satunya film laga Indonesia. Yep, setelah lama mati suri, akhirnya ada juga film negri sendiri yang tak berkisah tentang hantu & cinta-cintaan remaja.

Merantau judul film besutan sineas Inggris, Gareth Evans ini. Ups, ini satu hal yang harusnya membuat para sineas Indonesia malu. Karena film laga ini muncul dari ide dan disutradari sendiri oleh orang luar.

Merantau sendiri sesuai dengan judulnya, Anda bisa tebaklah, berkisah tentang tradisi turun-temurun di masyarakat Minangkabau dimana seorang laki-laki musti membuktikan kedewasaan dirinya dengan pergi dari kampung halamannya untuk mencari pengalaman hidup. Begitu juga yang dilakoni oleh Yuda (Iko Uwais). Saat waktunya tiba, Yuda harus meninggalkan kampung halamannya menuju Jakarta.

Setibanya di Jakarta, Yuda menyaksikan sepak terjang sindikat perdagangan manusia saat menculik seorang gadis, Astri (Sisca Jessica). Tanpa babibu, Yudha yang ternyata jago silat Harimau berhasil menyelamatkan Astri. Tak terima dengan kegagalan anak buahnya, boss sindikat memutuskan untuk mengejar Yudha dan Astri. Aksi kejar-kejaran dipenuhi aksi baku hantam pun memenuhi film ini.

Terdengar klasik ya?

Yup, secara cerita memang film ini tak terlalu istimewa. Kebetulan kita belum bisa menyaksikan keseluruhan filmnya, karena berdasarkan informasi di situs resminya, Merantau baru akan dirilis tanggal 6 Agustus 2009, mundur dari rencana awal 30 April 2009.

Sejauh ini, kita hanya bisa dapatkan gambaran seperti apa serunya film ini dari trailer yang sudah dan behind the scenes yang ada di Twitch.com maupun di situs resmi film Merantau juga di Facebook.

Ong Bak

Ong Bak

Namun, yang teristimewa dari film ini adalah aksi yang dihadirkan. Aksi dalam Merantau lebih mirip film Hongkong dibandingkan film-film laga Indonesia yang ada selama ini. Meski berbasis Pencak Silat, namun penonton akan sulit membedakan aksi Yuda dalam menghajar lawan-lawannya dengan gaya jagoan kung-fu atau karate. Bahkan, bagi Anda yang pernah menyaksikan film Ong Bak asal Thailand, Anda akan temukan banyak kemiripan gaya di sana.

Adegan pertarungan di jembatan busway, pengejaran di area konstruksi, juga kejar-kejaran di atap gedung serta pertarungan di atas container adalah beberapa contoh adegan yang mirip dengan adegan dalam film Ong Bak. Tak jelas apakah memang hal ini disengaja atau kebetulan semata.

Juga adegan saat Yuda musti menghindari tendangan beruntun dari lawan-lawannya dengan posisi terbalik dengan tangan bertumpuan pada sofa, amat mirip dengan gaya bertarung dalam film-film Jackie Chan.

Berbagai kemiripan ini sepertinya bisa dimaklumi jika melihat latar belakang dari sang sutradara. Gareth Evans dalam salah satu wawancara yang ada di Behind The Scenes Merantau mengakui bahwa dia seorang penggemar film laga. Dia bukan praktisi bela diri, hanya seorang yang menyukai film laga, dan ingin membuat film laga yang enak ditonton. Kebetulan karena dia juga mempunyai minat terhadap Pencak Silat, maka muncul lah ide film laga mengenai silat.

Awalnya, Gareth Evans berada di Indonesia dalam rangka membuat film dokumenter tentang Pencak Silat. Di mana dia berkenalan dengan berbagai aliran silat di berbagai daerah, antara lain Jakarta, Jawa Barat, Sumatera Barat dan sebagainya. Salah satu aliran yang memikat hatinya adalah Silat Harimau. Di saat pembuatan film dokumenter ini pula lah Gareth berkenalan dengan Iko Uwais, yang merupakan salah satu praktisi Silat Tiga Berantai dengan reputasi dunia. Iko adalah atlet pencak silat yang telah memenangi kejuaran dunia.

Meski demikian, film ini tetap patut diacungi jempol. Selain dari keunikan pemilihan basis beladiri yang tak banyak diekspos sebelumnya, juga dari segi sinematografi yang revolusioner untuk ukuran film Indonesia. Yang menjadikan film Indonesia layak untuk bersaing dengan film-film laga internasional.

Kita tunggu saja gebrakan film Merantau ini saat tayang di bioskop pada bulan Agustus mendatang. Akankah sanggup mengembalikan kejayaan film laga Indonesia di tengah serbuan film-film horor & cinta remaja? Semoga saja.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar